Saya bukan penikmat novel sebagaimana saya menggandrungi kopi dan rokok. Tapi bukan berarti anti. Novel bukan asupan utama saya. Ibarat menu, ia enak tapi tidak favorit. Jika ingin menyantap buku-buku atau sekedar membelinya, novel tidak masuk daftar paling atas. Hanya sekedar menambah variasi menu bacaan. Beberapa novel yang pernah saya baca, seperti karya Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, yang dapat menampar rezim ketidakadilan, atau karya Thomas Harris, Red Dragon, yang membawa kita menelusuri lorong gelap kasus-kasus kejahatan misterius. Kali ini novel yang saya baca beda. Karya dari Eka Kurniawan berjudul Cantik itu Luka, berbeda dari keduanya. Bagi para penikmat novel aliran realisme ini dapat jadi pilihan menu dengan cita rasa lain. Sudah lama saya tahu novel ini. Tapi enggan membelinya. Saya juga sudah mencari informasi di internet tentang penulisnya yang ternyata sudah kondang, memenangi beberapa penghargaan bergengsi, hingga dianggap penerus novelis terkemuka, Pramoedya...
Yuval Noah Harari , penulis best seller ' Sapiens', 'Homo Deus' dan ' 21 lessons for the 21th Century'. Umat manusia kini menghadapi krisis global. Bisa jadi krisis terbesar di generasi kita. Keputusan individu dan para pemerintah beberapa minggu ke depan mungkin akan membentuk bagaimana dunia di tahun-tahun mendatang. Mereka akan membentuk bukan hanya sistem kesehatan kita, melainkan juga ekonomi, politik, dan budaya kita. Kita harus bertindak cepat dan yakin. Kita juga harus menimbang akibat jangka panjang dari tindakan saat ini. Ketika memilih jalan keluar yang mana, kita harus bertanya ke diri sendiri bukan hanya bagaimana ancaman saat ini, melainkan juga dunia macam apa yang ingin kita huni selepas badai ini berlalu. Ya, badai pasti berlalu, umat manusia akan bertahan, sebagian besar dari kita akan tetap hidup—tapi kita akan tinggal dunia yang telah berbeda. Akan ada langkah mengatasi kedaruratan yang menjadi bekal hidup selanjutnya. Itulah watak kedar...