Skip to main content

Pendekatan Baru Ekonomi Timur Tengah[1] dan Peluang Indonesia

Zaman perubahan (Transformational era) di dunia Arab semacam proyek baru yang sedang digarap oleh IMF (International Monetary Fund) dan Bank Dunia. Perubahan institusional dari cara-cara sistem politik ekonomi tradisional menuju perubahan dimana merupakan akhir dari masa minyak (end of the oil era). Beberapa tahun terakhir, IMF dan Bank Dunia memulai kerjasama dengan komunitas-komunitas masyarakat, fokus terhadap pemberantasan korupsi, memperbaiki sistem layanan pendidikan dan kesehatan. Dan di saat yang sama, program reformasi ekonomi juga digalang dengan negara-negara Arab. Meski sebenarnya proyek utama adalah transformasi sistem politik.[2]

Ekonomi berbasis ekspor minyak kian dikoreksi. Meskipun beberapa negara Arab, minyak banyak memberi kesejahteraan seperti negara-negara Teluk, nyatanya sebagian besar negara-negara petrodolar belum dapat menyediakan lapangan pekerjaan yang lebih baik. Separuh populasi dunia Arab dari 406 juta berusia dibawah usia 25 tahun dan rata-rata secara regional 30 persen anak muda adalah pengangguran. Arab Saudi yang 70 persen buruh bekerja di sektor publik kini sedang melirik ekonomi ‘alternatif’ baru dan menurunkan ketergantungan ekonomi atas ekspor minyak.[3]


Di satu sisi, kebutuhan sumber energi terus dialihkan dari minyak ke sumber energi lain. Pada tahun 2016 saja, penggunaan  minyak sebagai sumber tenaga listrik kalah dengan gas alam. Dari total 10 negara Timur Tengah (Arab Saudi, Mesir, Uni Emirat Arab, Qatar, Oman Kuwait, Bahrain, Iraq, Jodania, dan Lebanon) yang dirilis Siemens Middle East Power- Outlook 2035 dari total 1.132 Twh (Terawatt per hour), 731 Twh berasal dari gas alam, sedangkan minyak bumi hanya 335 Twh. Sedangkan di tahun 2035 diproyeksikan dari total 2.092 Twh, 1.499 Twh merupakan gas alam dan minyak bumi hanya akan digunakan 315 Twh dari total 2.092 Twh. Sementara itu, kecepatan perubahan teknologi yang memungkinkan penggunaan sumber tenaga alternatif, dan ketidaksesuaiannya dengan spirit Sustainable Development Goals, semakin menegaskan minyak bumi bukan masa depan ekonomi dunia.

Orientasi Baru Ekonomi

Dunia Arab menuju arah perubahan. Namun, beragam instrumen untuk melaksanakan tata kelola ekonomi politik juga menjadi tantangan. Seperti kita lihat secara geo-politik dan geo-ekonomi. Banyak irisan faksional, jika kita melihat dari segi pendekatan regionalisme baru (new regionalism approch). Di satu sisi ada liga Arab, yang kerap direpresentasikan dengan wilayah Timur Tengah. Di sisi lain ada kerjasama negara-negara Teluk (Gulf Cooperation Council), beserta irisan Arab-Afrika Utara yang kian komitmen membangun tata kelola ekonomi baru berdasarkan penandatangan kerjasama ekonomi baru-baru ini di Afrika atau disebut dengan  African Continental Free Trade Area pada 2018 ini.

Namun kenyataannya, negara-negara Arab mulai berbenah orientasi ekonomi. Lahirnya tesis Revolusi Industri 4.0, menempatkan kemajuan teknologi informasi sebagai sumber ekonomi baru yang berprinsip pada kecepatan, presisi, efisien, dan bernilai ekonomi tinggi. Di Dubai, Uni Emirat Arab, kemunculan Careem sebagai perusahaan penyedia tranportasi on-line pada tahun 2012 saja telah memperkerjakan 250.000 orang, dan semakin tahun akan bertambah - menurut perusahaan - sampai 500.000 pekerja. Begitu juga Sauq.com perusahan ritel on-line telah memberi lapangan kerja sampai 3000 orang. Padahal populasi penduduk UAE hanya sebesar 9,4 juta jiwa pada tahun 2017. Secara umum, menurut data MAGNiTT, kurang lebih muncul 3000 start-up di Timur tengah dan Afrika Utara dengan nilai investasi mencapai lebih 870 juta dollar Amerika di tahun 2016.[4]

Itu artinya mereka semakin realistis dalam membangun ekonomi dalam negeri mereka. Potensi kemajuan teknologi sebagai pengumpul kapital terus dikembangkan untuk terus meminimalisir ketergantungan pada ekonomi berbasis sumber daya alam yang terbatas.

Peluang Indonesia

Selain sumber daya alam sebagai penopang produktifitas ekonomi, Timur Tengah nyaris tidak memiliki sumber daya mumpuni untuk menggantikan ketergantungan terhadap minyak dan gas kecuali pada beberapa negara yang mengandalkan sektor pariwisata, seperti haji dan umrah. Pertanyaan mendasar setelah melihat sepintas overview kondisi Timur Tengah , lantas apa sektor realistis yang mungkin dapat diamainkan oleh Indonesia untuk meningkatkan kerjasama ekonomi yang menguntungkan?.

Pertama, sektor modal. Ini yang menjadi peluang Indonesia untuk meningkatkan kerjasama ekonomi, terlebih Indonesia kini membutuhkan kucuran dana segar untuk membangun insfrastruktur dan proyek strategis lainnya. Seperti tersiar kabar beberapa waktu yang lalu, rencana Arab Saudi berminat investasi di Indonesia mencapai US$25 juta.[5] Namun, ini terlampau jauh. Kondisi Timur Tengah diproyeksikan rata-rata pertumbuhan ekonominya hanya sebesar 3% di tahun 2018 dan meningkat 3,3% di tahun berikutnya. Sedangkan secara regional, negara-negara  anggota Gulf Cooperation Council (Arab Saudi, UAE, Qatar, Kuwait, Oman, Bahrain) yang digadang sebagai pembelanja modal lebih tinggi hanya 2,1% di tahun 2018 dan 2,7 di tahun 2019. Adapun negara Timur Tengah di Afrika Utara, seperti Mesir yang diharapkan memainkan peranan penting hanya tumbuh di angka 4% ke 5%. Belum lagi dihadapkan pada resiko eskalasi geopolitik yang kian tak menentu dan membuat ketidakpercayaan investor serta keterbatasan akses bantuan finansial.[6]

Kedua, ketergantungan mereka terhadap sektor pangan (food) baik makanan jadi maupun hasil agrikultur yang mungkin untuk jangka waktu yang lama. Ketahanan pangan mereka ditopang oleh importir sebab ketersediaan lahan tanam hanya 5% dengan 40% diantaranya kesulitan irigasi. Peningkatan populasi penduduk berbanding lurus dengan peningkatan nilai impor pangan, khususnya di negera-negara teluk yang diprediksi mencapai US$53,1 miliar di tahun 2020. Hanya Filipina, salah satu negara ASEAN, yang mensuplai pangan segar (fresh produce) di tiga negara utama importir pangan, yakni UAE, Arab Saudi dan Qatar, dengan total nilai lebih dari US$312 juta di tahun 2015, selebihnya negara-negara seperti Afrika Selatan, Amerika Latin, Australia, India, China dan lain-lain.[7] Pada kasus ini, kita sebagai negara agraris justru masih kepayahan untuk ketahanan pangan saja, belum sampai pada eksportir pangan, meskipun produk makanan siap saji, seperti produk Indomie yang merajai pasar di negara-negara Afrika dengan memperoleh nilai tertinggi dalam Consumer Reach Points (CRPs).

Akhir kata, kerjasama yang dibangun selama ini masih belum pada tahap kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan. Kita memang punya historis panjang hubungan diplomatik dengan negara-negara mayoritas Islam tersebut. Terlebih untuk kerjasama pendidikan dan kebudayaan. Pembenahan dalam negeri Indonesia, terutama berkaitan dengan sektor komoditi berkelanjutan seperti pangan, harus digarap serius mengingat dunia Arab semakin berbenah. Bukan tidak mungkin, mereka akan menjadi kekuatan regional cukup diperhitungkan. Maka juga harus berhitung, menalar dengan sistematis untuk membangun kerjasama multilateral dengan Timur Tengah yang memiliki signifikansi ekonomi di masa depan.

Oleh :MOH. ARIFUL ANAM, ketua DPC GMNI Kediri 2015-2017.

*Tulisan ini mendapat peringkat pertama pada Kompetisi Esai DPP GMNI dengan Tema "Kemitraan strategis Indonesia di kawasan Asia Pasifik dan Afrika" yang diumumkan pada 20 November 2019.




[1] Pengkategorian Negara-negara Timur Tengah di Indonesia meliputi seluruh negara-negara Arab dari Teluk hingga Arab di Afrika Utara. Pengkategorian kadang berbeda, beberapa membedakan antara Timur Tengah (Middle East) meliputi negara-negara Teluk sampai Irak-Syria dan Arab di Afrika Utara (North Africa) seperti Mesir, Libya, Aljazair, Maroko, Tunisia dll, sehingga dalam kajian wilayah Arab kedua disebut dengan MENA (Middle East and North Arfrica).
[2] Marwan Muasher, Nascent Hopes, Finance and Development, IMF, December 2017 Vol. 54 No. 4, Hal 14
[3] Campell McDiarmid, Technology’s Promise, Ibid. Hal 23.
[4] Ibid Campell.,hal 24
[5] https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39104120
[6] Global economies prospect, June 2018, World Bank
[7] https://www.pma.com/Content/Articles/2017/06/Who-Supplies-the-Middle-Easts-Increasing-Demand-for-Fresh-Produce




Comments

Popular posts from this blog

Dalam Masa Perang Melawan Coronavirus, Kemanusiaan Tanpa Kepemimpinan

Yuval Noah Harari , penulis best  seller  ' Sapiens', 'Homo Deus'  dan ' 21 lessons for the 21th Century'. Banyak orang menyalahkan epidemi virus korona pada globalisasi, dan mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk mencegah lebih banyak wabah seperti itu adalah dengan mendeglobalisasi dunia. Bangun tembok, batasi perjalanan, kurangi perdagangan. Karantina jangka pendek sangat penting untuk menghentikan epidemi, tapi isolasionisme jangka panjang akan menyebabkan keruntuhan ekonomi tanpa menawarkan perlindungan nyata dari penyakit menular ini. Justru sebaliknya. Penangkal sesungguhnya dari epidemi bukanlah segregasi, melainkan kerja sama. Epidemi membunuh jutaan orang jauh sebelum era globalisasi saat ini. Pada abad ke-14 tidak ada pesawat terbang dan kapal pesiar, namun Black Death menyebar dari Asia Timur ke Eropa Barat dalam waktu sedikitnya lebih dari satu dekade. Wabah ini menewaskan antara 75 juta dan 200 juta orang--lebih dari seperempat populasi Benua...

Dunia Pasca Virus Corona

Yuval Noah Harari , penulis best seller ' Sapiens', 'Homo Deus' dan ' 21 lessons for the 21th Century'. Umat manusia kini menghadapi krisis global. Bisa jadi krisis terbesar di generasi kita. Keputusan individu dan para pemerintah beberapa minggu ke depan mungkin akan membentuk bagaimana dunia di tahun-tahun mendatang. Mereka akan membentuk bukan hanya sistem kesehatan kita, melainkan juga ekonomi, politik, dan budaya kita. Kita harus bertindak cepat dan yakin. Kita juga harus menimbang akibat jangka panjang dari tindakan saat ini. Ketika memilih jalan keluar yang mana, kita harus bertanya ke diri sendiri bukan hanya bagaimana ancaman saat ini, melainkan juga dunia macam apa yang ingin kita huni selepas badai ini berlalu. Ya, badai pasti berlalu, umat manusia akan bertahan, sebagian besar dari kita akan tetap hidup—tapi kita akan tinggal dunia yang telah berbeda. Akan ada langkah mengatasi kedaruratan yang menjadi bekal hidup selanjutnya. Itulah watak kedar...

Merenungi Haji ala Shariati

Baru saja kita melewati musim Haji. Rutinitas ritual umat Islam dengan segudang problematika teknisnya bagi muslim Indonesia, selalu menyisakan pertanyaan substansial, apakah kita benar-benar sudah berhaji? Barangkali sudah, sebatas prosedur. Ihram, Wukuf, Tawaf, Sa’i dan Tahallul semua tertib dijalankan. Apa itu cukup? Apakah sebanding dengan jutaan duit yang telah dibayarkan dengan tujuan esensial Haji? Jika masih ragu, mari renungi bersama Ali Shariati.   Sebelum itu, sejenak kita singkirkan bias madzhab kita. Entah Sunni, Syiah atau yang lainnya. Kita pandang Ali Shariati sebagai manusia utuh dengan segudang keilmuannya. Meski faktanya, sebagai cendekiawan muslim, sosiolog, dan filsuf, beliau lahir dan besar dari lingkungan Syiah Iran. Keilmuannya dari timur sampai Barat. Ia lulus doktoralnya dari Sorbone University, Perancis tahun 1964. Aktif dalam pergerakan politik, mengkritik pemerintahan Shah Iran yang totaliter, bolak-balik masuk bui, akhirnya ia dibunuh di London oleh...