Skip to main content

Posts

Marhaenisme Tetap Kiri

Ketika berbincang marhaenisme dalam komparasi ideologi, Marxisme-komunisme sering kali diletakkan untuk menjadi salah satu pembanding. Dalam telaahnya, terminus ad quem (titik pijak) kelahiran ideologi yang disetuskan Soekarno dilandaskan pada kemanusiaan, sedangkan Marxisme: alieniasi manusia dari alat produksi. Keduanya sama: kiri, menentang exploitation de I’homme par I’homme (penghisapan manusia terhadap ,manusia lain). Sama-sama lahir dalam rahim kehidupan sosial yang tertindas oleh kepemilikan kapital atau borjuasi. Bahkan Bung Karno dalam konferensi pendidikan marhaenis, 1958 mengatakan ,” Intinya, marhaenisme adalah marxisme yang dijalankan untuk kondisi Indonesia.” Selanjutnya Bung Karno mengatakan ,”Kita mengambil filsafat historis materialisme sebagai pedoman pikiran dan kerja marhaenisme”. Marxisme dengan Historis Materialisme sebagai metode dan  analisis Marhaenisme dalam memahami kontradiksi pokok dan kontradiksi tidak pokok kondisi masyarakat Ind...

Ramadlan Yang Gagal

Setiap kali orang melakukan salat, ia telah mensimbolisasi pembentuk kehidupan dalam tiap gerak salat. Setiap detailnya mengandung makna yang tak remeh. Dalam berdiri, ia simbolkan api sebagai representasi energi panas, tegak dan selalu menjulang ke angkasa. Rukuk, ibarat udara yang memberi nafas, disusul dengan sujud sebagai bentuk air yang senantiasa menghidupi. Duduk membentuk isyarat betapa kokohnya bumi yang kita pijak, meskipun pada saatnya pasti berakhir kekokohan itu. Simbol-simbol salat menyampaikan pesannya sendiri. Kesemuanya terpadu harmoni membentuk apa yang dinamakan: Kehidupan. Begitu pula puasa. Ritus agama yang khas. Sangat berbeda dengan rukun Islam lainnya. Syahadat, Salat, Zakat, dan Haji, nampak bentuk perilakunya oleh orang lain, sedangkan puasa hanya diri yang mengetahui. Puasa merupakan refleksi individual yang sangat sensitif. Spirit kehidupan yang dikonstruk dipondasikan oleh pesan social morality. Kita diajarkan kehidupan lain di luar mapan kebany...

Kapitalisme Bergerak

Doktrin kapitalisme mempostulatkan modal sebagai lokomotif utama dalam sirkulasi ekonomi. Kekuatan modal dipakai untuk mengusai seluruh aspek produksi, berupa alat produksi, tenaga kerja, sistem distribusi, dan keseluruhan yang berhubungan dengannya. Nilai lebih yang dihasilkan keseluruhan produksi semata-mata hanya untuk pemilik-pemilik modal. Nilai yang tertanam dalam doktrin ini begitu sederhana. Kapitalisme hanya memiliki satu nilai dalam sistemnya, yakni profit. Sehingga, ia tidak mengijinkan nilai-nilai lain seperti kemanusiaan, keseimbangan, keadilan sosial, mengintervensi segala bentuk aktivitas ekonomi. Ketimpanganyang dihasilkan kapitalisme melahirkan kesadaran bahwa ia harus dihancurkan. Marx memberikan konsepsi teoritis bahwa keruntuhan kapitalisme adalah keniscayaan sejarah dan akan digantikan oleh sistem masyarakat komunis. Tranformasi ini kemudian didebatkan oleh para penafsir Marx meski dalam dimensi yang sama, yakni revolusi. Lenin di Rusia misalnya. Dalam pen...

Gugatan Budaya Lokal Terhadap Jaman

Oleh: Moh. Ariful Anam Tampaknya, kita akan menaruh prasangka baik ketika melihat Karapan Sapi di Madura atau Tari Jaipong ditonton turis asing. Dan berharap tradisi atau kesenian lokal memikat para turis membuat mereka berbondong-bondong datang ke Indonesia. Sehingga terjadi kontak ekonomi. Masyarakat mengambil keuntungan dari transaksi jual beli souvenir-souvenir atau nilai lebih lainnya. Negara tak ketinggalan. Devisa meluap-luap bak busa sabun, pemerintah tersenyum lebar melihat angka-angka pendapatan devisa merangkak naik. Apalagi Indonesia kini berhadapan dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan Asean Free Trade Agreement (AFTA) 2015 yang memungkinkan terjadinya “eksodus” turis besar-besaran ke Indonesia. Semua bersorak bahagia. Namun, jika kita sedikit merenung dan berpikir ideal, apakah segala hasil karya budaya manusia menjadi disegani karena ada memiliki nilai secara ekonomis?. Budaya lokal menjadi sangat dibanggakan jika dapat ditampilkan di panggung internasion...

Kota Lingkaran

oleh : Kunam Bangunan utamanya merupakan istana para raja. Sekelilingnya bangunan tambahan berupa tempat tinggal, akademi, dan perpustakaan. Tempat tinggal dihuni para harem dan pejabat-pejabat khusus raja. Tak ketinggalan pula para pembantu laki -laki yang dikebiri.  Konon, bagian yang mengesankan dilengkapi karpet, gorden, dan bantal terbaik di masa itu. Tampak dari atas komplek bangunan itu melingkar. Sehingga tempat itu disebut Kota Lingkaran. Namun, kira-kira kota itu ada pada 1200 tahun lalu. Kota indah itu berada tepat di jantung kota Bagdad. Salah satu raja Abbasyiah, Harun Al-Rasyid (786-809 M), yang telah membangunnya. Di situ menjamur cendekiawan-cendekiawan muslim. Mereka yang menjadikan Bagdad didapuk sebagai pusat intelektual dunia. Begitupun pelawak, penyair, tukang sulap, penari ikut meramaikan Kota Lingkaran. Kota ini pula menjadi saksi kelahiran kisah seribu satu malam yang terkenal itu. Termasuk juga menjadi saksi kehidupan fenomenal seorang penyair sek...

Setelah 45 Tahun: Refleksi Pasca Pembantaian 1965-66

Awalnya adalah operasi militer. Pada dini hari 1 Oktober 1965 segerombol pasukan pimpinan Letkol Untung menculik dan membunuh bebarapa Jenderal. Meski bukan organisasi semimiliter, Parati Komunis Indonesia (PKI) dituduh sebagai dalangnya. Ujungnya terjadi pembantaian massal terhadap orang-orang yang dianggap PKI. Peristiwa itu disebut Gerakan 30 September (G 30 S) – kini tanpa embel-embel PKI dibelakangnya – atau Soekarno menyebutnya GESTOK (Gerakan Satu Oktober). 49 tahu lalu, peristiwa itu terjadi. Tapi, luka masa silam itu mungkin belum bisa tersembuhkan. Jangankan mencari pelaku yang harus diadili, simpang siur sejarah masih menjadi satu problem. Dokumen-dokumen prahara 1965 masih disegel di ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia). Alasannya, terganjal TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966. Lalu siapa yang bertanggung jawab atas pembantaian ratusan ribu jiwa selama 1965-1966. Belum lagi yang ditahan tanpa diadili selama puluhan tahun di Pulau Buru. Begitu penting dokumen i...

Tan Malaka dalam Sastra

Sebuah roman revolusioner yang dipersembahkan Matu Mona pada tahun 1930-an memberikan referensi tersendiri pada khalayak tentang kaum kiri Indonesia. Novel yang berjudul “Pacar Merah Indonesia” adalah novel sejarah yang mengisahkan pergerakan “pentolan-pentolan” golongan kiri pasca dibuang – ada yang sengaja melarikan diri – ke luar negeri oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Matu Mona tidak menamai tokoh-tokoh yang terlibat dalam roman sejarah ini dengan nama aslinya. Ia menciptakannya sendiri. Tokoh utama, Tan Malaka dinamai dengan Pacar Merah, sedang kawan-kawannya seperti Alimin sebagai Ivan Alimsky, Musso sebagai Paul Mussote, semaun sebagai Semanoff, Djamaludin Tamin sebagai Djalumin, Darsono sebagai Darsonoff, dan lain sebagainya. Benar adanya, tokoh-tokoh dalam novel ini adalah para pemimpin Partai Komunis Indonesia yang lari akibat tindakan represif pemerintah penjajah. Langkah yang diambil para pemimipin kiri ini tidak semata untuk bersembunyi ketakutan, tapi merupakan...