Skip to main content

Kisah Konyol Menjelang Runtuhnya Uni Soviet



Siapa yang tak tahu Uni Soviet? “Negara” Perserikatan yang menjadi salah satu mantan aktor perang dingin ini telah bubar 23 tahun lalu. Negara – lebih baik disebut perserikatan – yang terletak di Eropa Timur dan kawasan Baltik menyita perhatian dunia pada akhir tahun 1991. Betapa tidak perserikatan ini yang lahir dari kesepakatan meja kongres pada tanggal 30 Desember 1922 – artinya sudah cukup sepuh untuk menjadi organisasi yang kuat – luluh lantah diterpa “badai” nasionalisme. Bubarnya Uni Soviet menandai kemenangan blok barat – AS dkk – dan berakhirnya perang dingin.

Pada awal berdirinya – tepatnya saat kongres pertama – ada dua pendapatberbeda dalam menformat perserikatan. Pendapat pertama, Josepf Stalin mengusulkan satu perserikatan di bawah Republik Federal Rusia sebagai republik terbesar, dan republik-republik tetap memiliki otonominya. Sedangkan pendapat kedua dari Vladimir Lenin. Meski tak hadir karena sakit keras, Lenin mengirimkan gagasanya dalam sebuah pesan. Sebaiknya, semua republik termasuk Rusia, menandatangani perjanjian persamaan derajat dan membentuk suatu uni. Kongres kemudian menyepakati ide Lenin.

Dari gagasan ini sebenarnya Soviet ingin dibangun satu nasionalisme di bawah payung Uni Soviet. Ternyata ini malah menjadi bom waktu yang meletus 70 tahun kemudian. Sebab, perserikatan ternyata tak mampu meleburkan nasionalisme di tiap-tiap republik dalam satu nation bernama Uni soviet. Ia tetap menjadi sekumpulan rakyat yang memiliki nasionalisme sendiri-sendiri, adat istiadat, budaya, bahasa berbeda-beda.

Sebelum meninggal, lenin sendiri menyesali gagasannya. Ia mendektekan surat, yang isinya agar kongres selanjutnya mengubah sistem perserikatan sedemikian rupa, hingga pusat hanya memiliki kuasa dalam bidang diplomatik dan militer. Selebihnya diserahkan ke otoritas tiap-tiap republik.

Tampaknya, saran Lenin tak digubris, sampai kekuasaan jatuh di tangan Stalin. Dengan gaya totaliternya yang “khas”, Stalin menggunakan “rantai besi” untuk mempertahankan perserikatan dan membentuknya sesuai dengan kehendaknya. Sistem “terali besi” , sistem yang menutup diri dari dunia luar diterapkan. Pertumpahan darahpun tak terelakkan. Sistem Stalinisme ini bertahan sampai menjelang runtuhnya Soviet. Di samping “wabah” nasionalisme, ini juga yang menyebabkan rakyat bergerak. Hingga pada tahun 1990, satu persatu republik melepaskan diri atas nama kemerdekaan dari tirani. Puncaknya pembubaran Uni Soviet.

Tentu orang yang paling dipusingkan dari prahara ini, tentu orang nomor satu di Soviet saat itu. Adalah Mikhail Gorbachev presiden terakhir Uni Soviet. Pria asal desa kecil bernama Privolnoye, desa di ujung daaerah Stavropol, nampaknya harus elus-elus kepala ketika negara perserikatan yang ia pimpin dibubarkan oleh palu meja kongres di tahun kelima kepemimpinannya. Padahal sebelumnnya ia digadang-gadang akan mengubah arah kebijakan Soviet, dan itu terjadi. Konsekuensinya Ia harus berhadapan dengan golongan kamunis ortodoks.


Kudeta “Konyol” yang Gagal

Sejak Gorby – panggilan Gorbachev – menggulirkan kebijakan politik keterbukaan dan pembaharuan atau yang disebut dengan glasnost dan perestroika, Ia ditentang habis-habisan oleh para pimpinan Politbiro Partai Komunis Uni Soviet (PKUS) yang mencoba mempertahankan sistem komunisme ortodoks. Gorbachev cukup kuat dalam pendiriannya dan posisinya, sebab selain presiden, ia menjabat sekjend partai, posisi tertinggi di PKUS.

Ancaman disintegrasi yang “akut” ditambah kebijakan Gorbachev, memaksa kelompok garis keras alias komunis ortodoks untuk melukakan tindakan penyelamatan. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengambil alih kekuasaan, yaitu kudeta. Namun ada yang lucu dari kudeta tiga hari tersebut. Menurut berita yang lansir oleh majalah Tempo edisi 7 September 1991, kudeta gagal itu karena telegukan vodka. Sehingga berita itu diberi judul “Gagalnya Kudeta : Karena Mabuk“.

Hari itu, Rabu 21 Agustus 1991, lewat tengah hari. Salah satu otak dari peristiwa kudeta, sekaligus Wakil Presiden, Gennady Yanayev duduk dengan lemas di kantornya Kremlin, sedang Gorbachev telah ditahan di dacha-nya di Crimea. Hari itu juga, Yanayev ditelikung oleh sekutunya sendiri. Menteri Pertahanan Dmitry Yazov pindah haluan. Ia (Yazov) memerintahkan agar pasukan dan tank-tank ditarik dari pos-pos penjagaan dan ditemani kepala KGB – CIA-nya Uni Soviet –, Vladimir Kryuchkov, ia terbang ke Crimea untuk meminta maaf kepada Gorbachev. Ditambah lagi Perdana Menteri Valentin Pavlov berbalik memihak Gorbachev hanya beberapa jam setelah terjadi perebutan kekuasaan. Yanayev pun meraih botol vodkanya dan menenggaknya. Ia sadar semua telah berakhir.

Tak lama kemudian, sekitar pukul 4 sore, dua orang kepercayaan Gorbachev tiba-tiba masuk. “Apakah sudah ditangkap semua?” tanya Yanayev sambil lemas – dan teler – nan pasrah kepada dua orang tersebut. “Ya” kata salah satu dari mereka, berdusta. Pada siang itu memang dari komite darurat –bentukan Yanayev dkk – belum satu pun diringkus.

Keesokan harinya, dengan keadaan sadar – dari mabuk semalaman – Yanayev digelandang oleh pengawal kejaksaan agung. Maka, berakhirlah kudeta yang berusia tiga hari itu.

Entah apa yang dipikirkan Yanayev, orang yang menjadi pemeran utama dalam pengambilalihan kekuasaan Gorbachev melakukan tindakan kup dengan sangat tidak “profesional”. Ia mengawali dan mengakhiri kudeta dengan keadaan mabuk berat.

Selain itu, Komite Darurat terbentuk dalam suasana tidak serius. Minggu, sehari sebelum kudeta, Dewan Sekuriti Nasional mengadakan pertemuan dengan tokoh politik. Sebagian anggota Dewan adalah  yang kemudian menjadi anggota Komite Darurat. Pavlov dan Yanayev datang dengan keadaan mabuk berat, sehabis berpesta. “Kami hanyalah dua orang tolol” demikian kata Pavlov menurut Wakil Perdana Menteri Shcherbakov.

Kata Shcherbakov, sejak awal pembentukan Komite Darurat memang tidak serius. Kedelapan anggota tak kompak karena terpaksa teken saja. Contohnya, Pavlov dan Yanayev menandatangani dengan keadaan teler. Maka tidak heran, esok hari setelah kudeta diumumkan kedelapan anggota Komite tak berkumpul di satu tempat. Namun, berada di kantor masing-masing sehingga komunikasi mereka jelas terganggu.

Di sepanjang sejarah kudeta dunia, mungkin kudeta yang dilakukan golongan Komunis Ortodoks Uni Soviet lah yang paling konyol dan menggelikan. Bukan karena pendek atau panjang usia kudeta tapi bagaimana mungkin politikus sekelas mantan negara adidaya melakukan kudeta seperti orang amatiran atau mungkin malah memang amatiran. Apakah memang seperti kenyataannya?.


DaftarPustaka
“Maju 10 Tahun atau Mundur 50 Tahun”. Tempo7 September 1991,67
“Gagalnya Kudeta: Karena Mabuk”. Tempo7 September 1991,72-73
“Api yang Menghangatkan Soviet”. Tempo, 10 Februari 1990, 42




Comments

Popular posts from this blog

Antagonisme Bahasa Seks

Kitab kamasutra-nya Jawa: Serat Centhini. Tanpa mendiskreditkan budaya Jawa, Centhini memang berbahasa cabul, kasar, bahkan menjijikkan. Namun, mana mungkin kita akan mengolok-olok tradisi Jawa, khususnya kesusatraan Jawa. Kecuali, kita menggunakan tolok ukur parsial, dengan mengatakan amoralitas atas nama agama. Menurut Elisabeth D. Inandiak kecabulan dan kekotoran bahasa Serat Centhini terhapus lewat keindahan tembang dengan paduan gamelan dan pesinden, yang saya kutip dari Historia.id tertanggal 12 Maret 2012. Seperti kisah dalam bukunya Benedict Anderson,  Kuasa-Kata: Jelajah Budaya Politik di Jawa , saat Cebolang mempraktikkan hubungan melalui anus, di mana sang Adipati Daha sebagai pelampiasan homoseks yang dilakukan Cebolang. Sang Adipati tidak mampu menahan sakit disodomi, merintih meminta belas kasih (barebel kang waspa/andruwuli sesambate). "Oh, berhenti..cukup... tolong, jangan.... lepaskan itu,... ow... ow.. tolong hentikan" (lah uwis aja-aja//wurungena ba...

Dunia Pasca Virus Corona

Yuval Noah Harari , penulis best seller ' Sapiens', 'Homo Deus' dan ' 21 lessons for the 21th Century'. Umat manusia kini menghadapi krisis global. Bisa jadi krisis terbesar di generasi kita. Keputusan individu dan para pemerintah beberapa minggu ke depan mungkin akan membentuk bagaimana dunia di tahun-tahun mendatang. Mereka akan membentuk bukan hanya sistem kesehatan kita, melainkan juga ekonomi, politik, dan budaya kita. Kita harus bertindak cepat dan yakin. Kita juga harus menimbang akibat jangka panjang dari tindakan saat ini. Ketika memilih jalan keluar yang mana, kita harus bertanya ke diri sendiri bukan hanya bagaimana ancaman saat ini, melainkan juga dunia macam apa yang ingin kita huni selepas badai ini berlalu. Ya, badai pasti berlalu, umat manusia akan bertahan, sebagian besar dari kita akan tetap hidup—tapi kita akan tinggal dunia yang telah berbeda. Akan ada langkah mengatasi kedaruratan yang menjadi bekal hidup selanjutnya. Itulah watak kedar...

Dalam Masa Perang Melawan Coronavirus, Kemanusiaan Tanpa Kepemimpinan

Yuval Noah Harari , penulis best  seller  ' Sapiens', 'Homo Deus'  dan ' 21 lessons for the 21th Century'. Banyak orang menyalahkan epidemi virus korona pada globalisasi, dan mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk mencegah lebih banyak wabah seperti itu adalah dengan mendeglobalisasi dunia. Bangun tembok, batasi perjalanan, kurangi perdagangan. Karantina jangka pendek sangat penting untuk menghentikan epidemi, tapi isolasionisme jangka panjang akan menyebabkan keruntuhan ekonomi tanpa menawarkan perlindungan nyata dari penyakit menular ini. Justru sebaliknya. Penangkal sesungguhnya dari epidemi bukanlah segregasi, melainkan kerja sama. Epidemi membunuh jutaan orang jauh sebelum era globalisasi saat ini. Pada abad ke-14 tidak ada pesawat terbang dan kapal pesiar, namun Black Death menyebar dari Asia Timur ke Eropa Barat dalam waktu sedikitnya lebih dari satu dekade. Wabah ini menewaskan antara 75 juta dan 200 juta orang--lebih dari seperempat populasi Benua...