Skip to main content

Media Berideologi, Perlukah?



Media adalah segala perwujudan komunikasi yang berkaitan dengan nilai-nilai jurnalisme (pemberitaan). Media juga berarti sebagai sarana komunikasi dan informasi perihal  peristiwa maupun kepentingan tertentu. Terdapat dua jenis media yaitu media cetak dan elektronik. Adapun segala bentuk kegiatan di dalamnya disebut sebagai pers, akan tetapi pada gilirannya pers sering dipersepsikan sebagai pegiat media alias subjeks dalam bermedia.

Di tengah arus sosio-politik dan sosio-ekonomi, peran media sangat dibutuhkan untuk memuluskan kepentingan-kepentingan yang bersifat materiil. Terutama media-media dengan sirkulasi permodalan yang besar, semisal Jawa Pos, Kompas, Metro TV, Viva.com, dan sebagainya. Sehingga pergeseran makna dan fungsi media tak terelakkan. Apabila dianalisis dengan pisau analisa materialisme historis dialektis, bahwa dunia pers (media) menjadi superstruktur   dari keadaan masyarakat dan yang menjadi basis struturnya adalah ekonomi. Superstruktur ini terbabngun di atas basis struktur. Artinya adalah media yang sebelumnya media menjadi sarana komunikatif dan informatif yang murni untuk kepentingan ideal menjadi kepentingan pragmatis-materiil. Tentunya ini dalam konteks pers umum.

Gelombang pragmatisme media seperti gelombang elektromagnetik. Tidak berwujud tapi dampaknya besar. Akan tetapi, apakah media yang sudah akut ini tak mampu berbenah? Di sisi lain tetap bersifat pragmatis-materiil dan di lain pihak membawa visi ideal yang menjadi tujuan. Visi ideal inilah yang harus disusun dalam sebuah piranti ideologi yang jelas. Ya, dibutuhkanlah media berideologi.

Tentang media pada paragraf awal telah disuguhkan, lalu apa itu ideologi? Secara etimologi Ideologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Idea yang bermakna gagasan, konsep, ide, pikiran, keyakinan, dan cita-cita, sedangkan Logos adalah logika, ilmu, dan pengetahuan. Maka menurut Ali Syariati tokoh pemikir muslim Iran ,ideologi adalah ilmu tentang cita-cita dan keyakianan. Dalam konteks lain ideologi sebagai seperangkat konsep tentang pandangan dunia dan juga sebagai landasan berpikir dan memandang “perwajahan” dunia. Pemikir Syiah itu pun juga menandaskan bahwa ideologilah yang mampu mengubah masyarakat.

Media yang Berideologi atau Ideologi yang Dimediakan

Banyak yang menilai bahwa ketika ideologi disandingkan dengan media, maka seolah-seolah media adalah benda pasif yang digunakan untuk memproagandakan sebuah ideologi. Semisal, surat kabar Harian Rakyat milik PKI atau Panji Islam milik Masyumi – begitu halnya seperti golongan lain, PNI, NU, PSI dan sebagainya – pada masa Orde Lama. Bahkan mungkin seperti Pravda di Uni Soviyet atau Harian Rakyat Peking di RRC. Tentu saja semua media tersebut membawa visi propaganda ideologi, praktis maka secara terang-terangan membawa kepentingan politik dan tak segan-segan membantai lawan politiknya. Memang ideologi pada saat itu lebih “mesra” dengan politik dari pada moralitas. Dan visi ideologinya ialah ialah untuk mengideologikan massa bukan untuk menyuguhkan analisa permasalhan dengan menggunakan ideologi.

Dulu tidak sama dengan sekarang. Ideologi masa kini harus diresapkan pada pemikiran kepada pegiat media alias insan pers. Ideologi harus dirumuskan sesuai dengan kondisi kekinian, dipakai sebagai cara pandang dan alat pengupas isu-isu sosio-politik, ekonomi, atau yang lainnya.

Sebenarnya kasus itu seperti pada masa perjuangan kemerdekaan, Mas Marco Kartodikromo yan disebut sebagai “Bapak Wartawan” Indonesia pada masanya telah mampu membuat Hindia Belanda seperti kehilangan jenggot. Langkah pemerintah kolonial memenjarakan Mas Marco nampaknya sangat tepat. Betapa tidak, pada saat itu pria yang lahir di Cepu tersebut sangat getol mengkritik pemerintah kolonial lewat tulisannya.

Ia aktif dalam organisasi besar saat itu, awalnya Sarikat Islam cabang Solo kemudian PKI di cabang yang sama. Pada tahun 1914, pria yang meninggal pada tanggal 18 Maret 1932 juga  mendirikan Inlandsche Journalister Bond, namun karena kedekatannya dengan Semaun, Darsono, Tan Malaka, Alimin, maka ia lebih dikenal sebagai PKI dari pada organisasi lainnya.  Dan praktis Frame berpikirnya adalah Marxian, sehingga dalam menganalisa segala sesuatunya tentu dari sudut pandang Marxisme.

Mungkin inilah yang membedakan antara media yang berideologi dan ideologi yang dimediakan. Mas Marco berbeda dengan PKI masa Orla, Masyumi, atau yang lainnya. Mas Marco memandang kemiskinan, kesengsaraan, perbudakan bukan semata-mata karena penjajahan fisik saja tapi diberlakukannya sistem liberalisme ala Kulit Putih oleh Belanda atau disebut dengan Free fight competition to eksploit Indonesia. Morco memandangnya lewat kaca mata Marxian (sosialisme). Dengan tulisannya media dibuat berideologi, dan tetap membuat media menjadi hidup.

Media dan Ideologi yang Seperti Apa?

Kapitalisme, Sosialisme, Komunisme, Liberalisme, Merkantilisme, Pan-Arabisme, Pan-Islamisme, Anarkhisme, Marhaenisme dan banyak lagi ideologi yang berkembang pada abad ke-19 sampai pertengahan abad ke-20, sebagian sudah tenggelam sebagian lagi masih bertahan sampai sekarang. Namun, akhir-akhir ini ideologi – yang masih bertahan – sudah tak tampak gaungnya. Misalnya komunisme di RRC, Vietnam, Kuba, Korea Utara  Kapitalisme di AS, Negara-negara Eropa Barat, dan sebagian di Asia Pasifik dan sosialisme di sebagian Ameriaka Latin, sebagian negara-negara Timur Tengah, Eropa Timur dan lain sebagainnya. Nampaknya ideologi – secara ekplisit – kurang laku di tengah masyarakat hari ini.

Termasuk di Indonesia, “kata” ideologi nampak telah menjadi benda usang nan asing. Pun media, tidak “pas” kiranya secara eksplisit berkoar-koar tentang ideologinya. Pada prakteknya ada dua jenis ideologi, pertama ideologi eksplisit kedua ideologi implisit. Ideologi eksplisit atau ideologi terbuka adalah cita-cita etika politik yang pada operasionalisasinya sangat terbuka hal ini terjadi seperti pada abad ke-19 sampai pertengahan abad ke-20. Kedua ideologi implisit (cenderung tertutup) yaitu keyakinan atau sistem nilai hakikat realitas dan cara bertindak masyarakat yang tidak dirumuskan secara eksplisit. Meskipun implisit, ideologi tersebut diyakini dan diresapi dalam seluruh gaya hidup, merasa, berpikir bahkan bermasyarakat.

Tipe ideologi yang kedua agaknya relevan dengan dunia media (pers). Ya, dalam merumuskan media berideologi tidak perlu memunculkan secara eksplisit dalam bermedia cukup diresapi dan dijadikan cara pandang oleh insan pers dalam mengkaji berbagai fenomena atau isu-isu tertentu. Akan tetapi harus dirumuskan dalam sebuah institusi media dan tentunya disepakati.

Pada akhirnya, media – umum ataupun non-umum – menjadi hidup, karen memiliki cita-cita ideal dalam bermedia tidak murni mencari keuntungan belaka. Di posisi ini sebenarnya yang paling strategis dalam merumuskan ideologi pers secara terperinci dan memiliki landasan keilmuan dan filsafat adalah pers mahasiswa. Pers mahasiswa yang tak dihantui oleh “untung-rugi” akan lebih mudah karena pikirannya yang masih suci dan haus akan eksplorasi keilmuan./kunam/       

Daftar Pustaka
Gie, Soe Hok. Zaman Peralihan. Depok: Gagas Media, 2005
AG. Eka Wenats Wuryanta. “Wacana Media Massa: Pertarungan Ideologi – Hegemoni” dalam (www.ekawenats.blogspot.com/2006/5/Wacana-Media-Massa:-Pertarungan-Ideologi – Hegemoni)
DR. Sabara, M.Fil.I “Teologi Pembebasan Ali Syariati: Bagian Kedua” dalam  (www.indonesian.irib.com/artikel1/Teologi-Pembebasan-Ali-Syariati:-Bagian-Kedua)

Comments

Popular posts from this blog

Antagonisme Bahasa Seks

Kitab kamasutra-nya Jawa: Serat Centhini. Tanpa mendiskreditkan budaya Jawa, Centhini memang berbahasa cabul, kasar, bahkan menjijikkan. Namun, mana mungkin kita akan mengolok-olok tradisi Jawa, khususnya kesusatraan Jawa. Kecuali, kita menggunakan tolok ukur parsial, dengan mengatakan amoralitas atas nama agama. Menurut Elisabeth D. Inandiak kecabulan dan kekotoran bahasa Serat Centhini terhapus lewat keindahan tembang dengan paduan gamelan dan pesinden, yang saya kutip dari Historia.id tertanggal 12 Maret 2012. Seperti kisah dalam bukunya Benedict Anderson,  Kuasa-Kata: Jelajah Budaya Politik di Jawa , saat Cebolang mempraktikkan hubungan melalui anus, di mana sang Adipati Daha sebagai pelampiasan homoseks yang dilakukan Cebolang. Sang Adipati tidak mampu menahan sakit disodomi, merintih meminta belas kasih (barebel kang waspa/andruwuli sesambate). "Oh, berhenti..cukup... tolong, jangan.... lepaskan itu,... ow... ow.. tolong hentikan" (lah uwis aja-aja//wurungena ba...

Dunia Pasca Virus Corona

Yuval Noah Harari , penulis best seller ' Sapiens', 'Homo Deus' dan ' 21 lessons for the 21th Century'. Umat manusia kini menghadapi krisis global. Bisa jadi krisis terbesar di generasi kita. Keputusan individu dan para pemerintah beberapa minggu ke depan mungkin akan membentuk bagaimana dunia di tahun-tahun mendatang. Mereka akan membentuk bukan hanya sistem kesehatan kita, melainkan juga ekonomi, politik, dan budaya kita. Kita harus bertindak cepat dan yakin. Kita juga harus menimbang akibat jangka panjang dari tindakan saat ini. Ketika memilih jalan keluar yang mana, kita harus bertanya ke diri sendiri bukan hanya bagaimana ancaman saat ini, melainkan juga dunia macam apa yang ingin kita huni selepas badai ini berlalu. Ya, badai pasti berlalu, umat manusia akan bertahan, sebagian besar dari kita akan tetap hidup—tapi kita akan tinggal dunia yang telah berbeda. Akan ada langkah mengatasi kedaruratan yang menjadi bekal hidup selanjutnya. Itulah watak kedar...

Dalam Masa Perang Melawan Coronavirus, Kemanusiaan Tanpa Kepemimpinan

Yuval Noah Harari , penulis best  seller  ' Sapiens', 'Homo Deus'  dan ' 21 lessons for the 21th Century'. Banyak orang menyalahkan epidemi virus korona pada globalisasi, dan mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk mencegah lebih banyak wabah seperti itu adalah dengan mendeglobalisasi dunia. Bangun tembok, batasi perjalanan, kurangi perdagangan. Karantina jangka pendek sangat penting untuk menghentikan epidemi, tapi isolasionisme jangka panjang akan menyebabkan keruntuhan ekonomi tanpa menawarkan perlindungan nyata dari penyakit menular ini. Justru sebaliknya. Penangkal sesungguhnya dari epidemi bukanlah segregasi, melainkan kerja sama. Epidemi membunuh jutaan orang jauh sebelum era globalisasi saat ini. Pada abad ke-14 tidak ada pesawat terbang dan kapal pesiar, namun Black Death menyebar dari Asia Timur ke Eropa Barat dalam waktu sedikitnya lebih dari satu dekade. Wabah ini menewaskan antara 75 juta dan 200 juta orang--lebih dari seperempat populasi Benua...