Skip to main content

Posts

Potret Wanita Saudi Dari Wadjda

Masih ingatkah film khas lebaran zaman dulu berjudul  Children of Heaven . Berkisah tentang perjuangan Ali untuk memiliki sepatu baru. Sebab Ali dari keluarga tidak mampu, Ali mengikut sertakan dirinya di lomba lari. Berharap mendapat juara dua dan mendapat hadiah sepatu baru, maka ia pun malah bersedih menjadi juara wahid di lomba tersebut. Film yang dirilis tahun 1997 itu, bagi beberapa orang yang lahir di era 90-an sudah jadi bagian romantika masa kanak-kanak. Kini melalui Wadjda, sang sutradara wanita pertama Arab Saudi, Haifaa al-Mansour seolah berusaha menampilkan  Children of Heaven -nya Arab Saudi. Film ini bercerita tentang anak perempuan bernama Wadjda yang ingin memiliki sepeda nya sendiri. Ia kemudian mengikuti lomba tilawah al-Quran, untuk memenangi sejumlah uang. Akan tetapi, beda Ali, beda Wadjda. Bukan karena ketidakmampuan ekonomi keluarga Wadjda untuk membelikannya sepeda, tapi untuk keluarga religius pamali bagi anak gadis bersepeda. Ya, Wadjda ingi...

Antagonisme Bahasa Seks

Kitab kamasutra-nya Jawa: Serat Centhini. Tanpa mendiskreditkan budaya Jawa, Centhini memang berbahasa cabul, kasar, bahkan menjijikkan. Namun, mana mungkin kita akan mengolok-olok tradisi Jawa, khususnya kesusatraan Jawa. Kecuali, kita menggunakan tolok ukur parsial, dengan mengatakan amoralitas atas nama agama. Menurut Elisabeth D. Inandiak kecabulan dan kekotoran bahasa Serat Centhini terhapus lewat keindahan tembang dengan paduan gamelan dan pesinden, yang saya kutip dari Historia.id tertanggal 12 Maret 2012. Seperti kisah dalam bukunya Benedict Anderson,  Kuasa-Kata: Jelajah Budaya Politik di Jawa , saat Cebolang mempraktikkan hubungan melalui anus, di mana sang Adipati Daha sebagai pelampiasan homoseks yang dilakukan Cebolang. Sang Adipati tidak mampu menahan sakit disodomi, merintih meminta belas kasih (barebel kang waspa/andruwuli sesambate). "Oh, berhenti..cukup... tolong, jangan.... lepaskan itu,... ow... ow.. tolong hentikan" (lah uwis aja-aja//wurungena ba...

Merenungi Haji ala Shariati

Baru saja kita melewati musim Haji. Rutinitas ritual umat Islam dengan segudang problematika teknisnya bagi muslim Indonesia, selalu menyisakan pertanyaan substansial, apakah kita benar-benar sudah berhaji? Barangkali sudah, sebatas prosedur. Ihram, Wukuf, Tawaf, Sa’i dan Tahallul semua tertib dijalankan. Apa itu cukup? Apakah sebanding dengan jutaan duit yang telah dibayarkan dengan tujuan esensial Haji? Jika masih ragu, mari renungi bersama Ali Shariati.   Sebelum itu, sejenak kita singkirkan bias madzhab kita. Entah Sunni, Syiah atau yang lainnya. Kita pandang Ali Shariati sebagai manusia utuh dengan segudang keilmuannya. Meski faktanya, sebagai cendekiawan muslim, sosiolog, dan filsuf, beliau lahir dan besar dari lingkungan Syiah Iran. Keilmuannya dari timur sampai Barat. Ia lulus doktoralnya dari Sorbone University, Perancis tahun 1964. Aktif dalam pergerakan politik, mengkritik pemerintahan Shah Iran yang totaliter, bolak-balik masuk bui, akhirnya ia dibunuh di London oleh...

Pendekatan Baru Ekonomi Timur Tengah[1] dan Peluang Indonesia

Zaman perubahan ( Transformational era ) di dunia Arab semacam proyek baru yang sedang digarap oleh IMF ( International Monetary Fund ) dan Bank Dunia. Perubahan institusional dari cara-cara sistem politik ekonomi tradisional menuju perubahan dimana merupakan akhir dari masa minyak ( end of the oil era ). Beberapa tahun terakhir, IMF dan Bank Dunia memulai kerjasama dengan komunitas-komunitas masyarakat, fokus terhadap pemberantasan korupsi, memperbaiki sistem layanan pendidikan dan kesehatan. Dan di saat yang sama, program reformasi ekonomi juga digalang dengan negara-negara Arab. Meski sebenarnya proyek utama adalah transformasi sistem politik. [2] Ekonomi berbasis ekspor minyak kian dikoreksi. Meskipun beberapa negara Arab, minyak banyak memberi kesejahteraan seperti negara-negara Teluk, nyatanya sebagian besar negara-negara petrodolar belum dapat menyediakan lapangan pekerjaan yang lebih baik. Separuh populasi dunia Arab dari 406 juta berusia dibawah usia 25 tahun dan rata-ra...

Menemukan Kembali Nasionalisme Kita

Semua orang berhak mengklaim dirinya nasionalis. Begitupun saya. Meski semasa kuliah pernah berkecimpung dalam organisasi berhaluan nasionalis, namun bukan berarti sebelumnya saya bukan nasionalis. Nasionalisme yang nyata itu saya temukan di sela-sela mengintip Indonesia dalam bingkai sejarah penderitaan. D alam  capture dunia media, kita kerap menemukan nasionalisme menjadi semacam identitas politik yang kerap dipertentangkan dengan cap-cap yang lain, seperti nasionalisme - religius. Alih-alih ingin merona bingkai kebangsaan yang semakin kokoh dan mengakar. Justru malah memagari antar-antar kelompok, sehingga mudah terklasifikasi dalam bahasa politik elektoral. Lihat fenomena kontestasi pemilihan presiden dan wakil presiden 2019 mendatang. Padahal bahasa 'abangan dan religius' itu lebih mudah dicerna dibanding 'nasionalis-religius'. Lantas mengapa 'nasionalisme dalam frame politik kekuasaan sebagai komunitas 'yang kurang saleh dalam beragama' lebih ...

Islam Nusantara: Trek Alternatif Untuk Sosial-PO

Sejak meletus Revolusi Arab pada awal tahun 2011 di berbagai negara Timur Tengah, Islam berhadapan dengan sisi gelap penganutnya, yang dimana menafsirkan Islam tidak hanya sebatas identitas agama, melainkan juga sebagai identitas sosial-politik. Islam menjadi semacam ‘partai’ puritan yang berada di belakang laskar-laskar jihadis . Al hasil, Islam lagi-lagi menjadi tokoh antagonis yang bersahabat dengan konflik dan pertumpahan darah. Melihat dalam konteks Indonesia yang meyoritas beragama Islam, mengarus utamakan Islam sebagai identitas sosial-politik, yang kemudian Islam sebagai alat perjuangan dalam tataran sosial-politik praktis, terihat kentara pada beberapa demontrasi besar di Jakarta, sejak akhir tahun tahun 2016 kemarin. Media asing bahkan banyak yang menyebut mereka sebagai Islam ekstrimis yang anti-toleransi, rasis, radikal dan lain sebagainya. Melihat kondisi tersebut, dibutuhkanlah konsep alternatif tentang Islam, yang dapat menampilkan wajah Islam santun, arif, dan bera...

Marhaenisme Tetap Kiri

Ketika berbincang marhaenisme dalam komparasi ideologi, Marxisme-komunisme sering kali diletakkan untuk menjadi salah satu pembanding. Dalam telaahnya, terminus ad quem (titik pijak) kelahiran ideologi yang disetuskan Soekarno dilandaskan pada kemanusiaan, sedangkan Marxisme: alieniasi manusia dari alat produksi. Keduanya sama: kiri, menentang exploitation de I’homme par I’homme (penghisapan manusia terhadap ,manusia lain). Sama-sama lahir dalam rahim kehidupan sosial yang tertindas oleh kepemilikan kapital atau borjuasi. Bahkan Bung Karno dalam konferensi pendidikan marhaenis, 1958 mengatakan ,” Intinya, marhaenisme adalah marxisme yang dijalankan untuk kondisi Indonesia.” Selanjutnya Bung Karno mengatakan ,”Kita mengambil filsafat historis materialisme sebagai pedoman pikiran dan kerja marhaenisme”. Marxisme dengan Historis Materialisme sebagai metode dan  analisis Marhaenisme dalam memahami kontradiksi pokok dan kontradiksi tidak pokok kondisi masyarakat Ind...